Laman

Saturday, 22 October 2016

Etiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang, Diagnosis dan Penanganan Kehamilan Ektopik



KEHAMILAN EKTOPIK

Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endrometrium kavum uteri.
A.     Etiologi
1.  Faktor tuba : salpingitis, perlekatan tuba, kelainan kongenital tuba, pembedahan sebelumnya, endometriosis, tumor yang mengubah bentuk tuba dan kehamilan ektopik sebelumnya.
2.      Kelainan zigot : kelainan kromosom dan malformasi
3.      Faktor ovarium : migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya), pembesaran ovarium dan unextruded ovum
4.      Penggunaan hormon estrogen seperti pada kontrasepsi oral
5.      Faktor lain, antara lain aborsi tuba dan pemakaian IUD

B.     Patogenesis
Kehamilan ektopik dapat berupa kehamilan tuba, kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal dan kehamilan intraabdominal. Yang paling sering terjadi adalah kehamilan tuba. Kehamilan tuba dapat terjadi pada pars interstisialis, pars ismika, pars ampularis dan infundibulum tuba. Kehamilan intrauterin dapat terjadi bersamaan dengan kehamilan ektopik. Disebut combined ectopic pregnancy bila terjadi bersamaan dan compound ectopic pregnancy bila kehamilan ektopik terjadi lebih dahulu dengan janin sudah mati dan menjadi litopedion. Hasil konsepsi bernidasi kolumnar atau interkolumnar dan biasanya akan terganggu pada kehamilan 6-10 minggu berupa :
1.      Hasil konsepsi mati dan diresorpsi
2.      Abortus ke dalam lumen tuba
3.      Ruptur dinding tuba
Uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua karena pengaruh estrogen dan progesteron dari korpus luteum graviditatis dan trofoblas. Pada endrometrium juga dapat ditemukan fenomena Arias-Stella.

C.      Manifestasi Klinis
1.      Amenore
2.      Gejala kehamilan muda
3.  Nyeri perut bagian bawah. Pada ruptur tuba nyeri terjadi tiba-tiba dan hebat, menyebabkan penderita pinsan sampai syok. Pada abortus tuba nyeri mula-mula pada satu sisi menjalar ke tempat lain. Bila darah sampai ke diagfragma bisa menyebabkan nyeri bahu, dan bila terjadi hematokel retrouterina terdapat nyeri defekasi.
4.      Perdarahan pervaginam berwarna coklat tua
5.   Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila servik digerakkan, nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada bekuan darah

D.     Pemeriksaan penunjang
1.  Pemeriksaan laboratorium : kadar hemoglobin, leukosit, tes kehamilan bila baru terganggu
2.      Dilatasi kuretase
3.      Kuldosentesis, yaitu suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah didalam kavum douglasi terdapat darah. Teknik kuldosentesis :
a.      Baringkan pasien dalam posisi litotomi
b.      Bersihkan vulva dan vagina dengan antiseptik
c.   Pasang spekulum dan jepit bibir belakang porsio dengan cunam servik, lakukan traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak.
d.   Suntikkan jarum spinal no 18 ke kavum douglasi dan lakukan pengisapan dengan spuit 10 ml
e.    Bila pada penghisapan darah keluar, perhatikan apakah darahnya berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan kecil yang merupakan tanda hematokel retrouterina
4.   Ultrasonografi berguna pada 5-10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di luar uterus.
5.      Laparoskopi atau laparotomi sebagai pendekatan diagnosis terakhir

E.      Diagnosis
Penegakkan diagnosa pada kehamilan ektopik belum terganggu sulit sehingga memerlukan pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis yaitu USG, laparoskopi atau kuldoskopi. Penegakkan diagnosis pada kehamilan ektopik terganggu dapat didapatkan dari :
1.   Anamnesis : amenore dan kadang terdapat tanda hamil muda, nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus, dan perdarahan pervaginam setelah nyeri perut bagian bawah.
2.   Pemeriksaan umum : penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut dapat ditemukan tanda-tanda syok.
3.  Pemeriksaan ginekologi : ditemukan tanda-tanda kehamilan muda, rasa nyeri pada pergerakan serviks, uterus dapat teraba agak membesar dan kadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan, kavum douglasi menonjol, berisi darah dan nyeri bila diraba.
4.     Pemeriksaan laboratorium : hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat.

F.      Diagnosis banding
Infeksi pelvik, abortus iminens atau insipiens, kista ovarium, ruptur korpus luteum, kista folikel dan apendisitis.

G.     Penatalaksanaan
Pasien dirujuk ke Rumah Sakit, dan dilakukan :
1.      Laparotomi
2.      Salpingektomi/salpingostomi/reanastomosis tuba.
3.    Kemoterapi dengan metotreksat 1 mg/kg intravena dan faktor sitrovorum 0,1 mg/kg intramuskular berselang-seling selama 8 hari bila kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah, diameter kantong gestasi kurang atau sama dengan 4 cm, perdarahan dalam rongga perut kurang 100 ml dan tanda vital baik.

H.    Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Sebagian wanita menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik atau mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba sisi lain. Angka kehamilan ektopik berulang dilaporkan 0-14,6%.

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Kedokteran UI, 2001 Kapita Selekta Kedokteraan. Penerbit Media Aesculaplus, Jakarta

No comments:

Post a Comment