Laman

Saturday, 22 October 2016

Pengertian, Etiologi, Komplikasi, Pencegahan dan Penanganan Hipermesis Gravidarum



Hipermesis Gravidarum

Pengertian
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang sering dijumpai pada kehamilan trimester 1 (kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu). Sekitar 60-80 % primigravida, 40-60% multigravida mengalami mual dan muntah, namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1 dari 1.000 kehamilan.

Etiologi
Belum diketahui pasti, namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain:
1.      Faktor predisposisi yaitu : primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda
2.   Faktor organik yaitu : alergi, masuknya vili khorialis dalam siklus, perubahan metabolik akibat kehamilan, dan resistensi ibu yang menurun.
3.     Faktor psikologi

Patofisiologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, hiponatremia, penurunan klorida urin. Selanjutnya terjadi hemokonsentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksik. Pemakaian cadangan karbohidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna hingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput lendir esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal.

Manisfestasi Klinik 
Menurut berat ringannya gejala, hiperemesis gravidarum dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu :
1.      Tingkat I
Muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan turun, dan nyeri epigrastrium. Frekuensi nadi naik sekitar 100 kali per menit. Tekanan darah sitolik turun, turgor kulit kurang, lidah kering dan mata cekung.
2.      Tingkat II
Pasien tampak lemah dan apatis, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang naik, dan mata sedikit ikterik. Berat badan turun, timbul hipotensi, hemokonsentrasi, oligouria, konstipasi dan nafas berbau aseton.
3.      Tingkat III
Kesadaran pasien menurun dari somnolen sampai koma, muntah berhenti, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tekanan darah makin turun.

Pemeriksaan Penunjang
Elektrolit darah dan urinalisis

Komplikasi
Ensefalopi Wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan mental, serta payah hati dengan gejala timbulnya ikterus.

Diagnosis
Dari anamnesis didapatkan amenore, tanda kehamilan muda, dan muntah terus-menerus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan pasien lemah, apatis sampai koma, nadi meningkat sampai 100 kali per menit, suhu meningkat, tekanan darah turun, atau ada tanda dehidrasi lain. Pada pemeriksaan elektrolit darah ditemukan kadar natrium dan klorida turun. Pada pemeriksaan urin kadar klorida turun dan dapat ditemukan keton.

Diagnosis banding
Muntah karen gastritis, ulkus peptikum, hepatitis, kolesistitis, pielonefritis, dll.

Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis
1.      Penjelasan bahwa kehamilan dan perslainan merupakan proses fisiologis
2.   Makan sedikit-sedikit tapi sering. Berikan makanan selingan seperti biskuit, roti kering dengan teh hangat saat bangun pagi dan sebelum tidur. Hindari makanan berminyak dan berbau. Makanan sebaiknya dalam keadaan panas atau sangat dingin
3.      Defekasi teratur

Penatalaksanaan
Bila pencegahan tidak berhasil, maka diperlukan pengobatan yaitu ;
1.     Penderita diisolasikan dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. Kalori diberikan secara parenteral dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari.
2.      Diuresis selalu dikontrol untuk menjaga keseimbangan cairan
3.   Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik, coba berikan minuman dan makanan yang sedikit demi sedikit ditambah.
4.      Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital
5.      Dianjurkan memberikan B1 dan B6 tambahan
6.   Pada keadaan yang lebih berat berikan antiemetik seperti metoklopramid, disiklomin, hidroklorida atau klorpromazin
7.     Berikan terapi psikologis untuk menyakinkan pasien penyakitnya bisa disembuhkan serta menghilangkan rasa takut hamil dan konflik yang melatarbelakangi hipermesis.
Bila pengobatan tidak berhasil, bahkan gejala makin berat hingga timbul ikterus, delirium, koma, takikardi, anuria dan perdarahan retina, pertimbangkan abortus terapeutik.

Prognosis
Penanganan yang  baik membuat prognosis sangat memuaskan. Namun pada tingkat yang berat dapat menyebabkan kematian ibu dan janin.


DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Kedokteran UI, 2001 Kapita Selekta Kedokteraan. Penerbit Media Aesculaplus, Jakarta

No comments:

Post a Comment