Laman

Saturday, 22 October 2016

Mola Hidatidosa, Pengertian, Etiologi, Manifestasi Klinis, komplikasi dan Penatalaksanaan



MOLA HIDATIDOSA

A.     Pengertian
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofik.

B.     Etiologi
Belum diketahui pasti. Ada yang menyatakan akibat infeksi, defisiensi makanan dan genetik. Yang paling sesuai ialah teori Acosta Sison yaitu defisiensi protein. Faktor resiko terdapat pada golongan sosioekonomi rendah, usia dibawah 20 tahun dan paritas tinggi.

C.      Patogenesis
Mola hidatidosa berkembang dari trofoblas ekstraembrionik. Mola hidatidosa terbagi menjadi :
a.       Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin
b.      Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.

D.     Manifestasi Klinis
a.       Amenore dan tanda – tanda kehamilan
b.   Perdarahan pervaginam berulang, darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
c.       Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
d.     Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih
e.      Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

E.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan sonde uterus (Hanifa)
b.      Tes Acosta Sison. Menggunakan tang abortus, gelembung mola dapat dikeluarkan.
c.       Peningkatan kadar beta HCG darah atau urin
d.      Ultrasonografi menunjukkan gambaran badai salju (snow flake pattern)
e.       Foto toraks ada gambaran emboli udara

F.      Komplikasi
Anemia, syok, infeksi, eklampsia dan tirotoksikosis

G.     Diagnosa
a.       Anamnesis : perdarahan pervaginam/gambaran mola, gejala toksemia pada trimester 3, hiperemesis gravidarum, gejala tirotoksikosis, dan gejala emboli paru.
b.  Pemeriksaan fisik : uterus lebih besar dari usia kehamilan, kista lutein, balotemen negatif, DJJ negatif.
c.     Pemeriksaan penunjang : pada tes Acosta Sison dapat dikeluarkan jaringan mola, pada tes Hanifa sonde dapat masuk tanpa tahanan dan diputar 3600 dengan deviasi sonde kurang dari 100

H.    Diagnosa Banding
Kehamilan dengan mioma, abortus, hidramnion dan gemeli

I.       Penatalaksanaan
a.       Perbaiki keadaan umum
b.  Keluarkan jaringan mola dengan vakum kuretase dilanjutkan dengan kuret tajam. Lakukan kuretase kedua bila tinggi fundus uterus lebih dari 20 minggu setelah hari ketujuh.
c.    Untuk memperbaiki kontraksi, sebelumnya berikan uterotonik (20-40 unit oksitosin dalam 250 cc darah atau 50 unit oksitosin dalam 500 ml NaCl 0,9 %). Bila tidak dapat dilakukan vacum kuretase, dapat diambil tindakan histerotomi
d.   Histerektomi perlu dipertimbangkan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup anak. Batasan yang dipakai ialah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga.
e.     Terapi profilaksis dengan sitostatik metotreksat atau aktinomisin D pada kasus dengan resiko keganasan tinggi seperti umur tua dan paritas tinggi.
f.   Pemeriksaan ginekologi, radiologi, dan kadar beta HCG lanjutan untuk deteksi dini keganasan. Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola, yang paling banyak dalam 6 bulan pertama. Pemeriksaan kadar beta HCG tiap minggu sampai kadar menjadi negatif selama tiga minggu lalu tiap bulan selama 6 bulan. Pemeriksaan foto toraks tiap bulan samapai kadar beta HCG nrgatif.
g.      Kontrasepsi sebaiknya diberikan preparat progesteron selama 2 tahun

J.        Prognosis
Hampir 20% mola hidatidosa komplet berlanjut menjadi keganasan, sedangkan mola hidatidosa parsial jarang. Mola yang terjadi berulang disertai tirotoksikosis atau kista lutein memiliki kemungkinan menjadi ganas lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Kedokteran UI, 2001 Kapita Selekta Kedokteraan. Penerbit Media Aesculaplus, Jakarta

No comments:

Post a Comment